Prolog!
Yo, John di sini. Lu tau ga kalau ada salah satu aliran filsafat moral yang masih bertahan hingga kini sejak ribuan tahun lalu. Yup, lu benar, itulah Stoikisme. Dari mulai Epictetus hingga Marcus Aurelius adalah 2 dari sekian banyak tokoh Stoik yang sangat berpengaruh.
Epictetus pernah bilang kalau kita seharusnya lebih perduli kepada apa yang bisa dikendalikan. Epictetus membagi 2 kelompok yaitu internal dan eksternal "Fokus pada apa yang bisa lu kendalikan bro" kata Epictetus. Kalimat ini terdenger sangat bijak, sederhana, dan keren, seolah-olah hidup kita bisa diringkas menjadi satu prinsip sederhana: tinggal kendalikan saja pikiran lu maka hidup akan baik-baik saja.
Nah, masalahnya realita tidak sesederhana itu guys. Timbul pertanyaan yang lebih jujur "Apakah manusia benar-benar bisa mengontrol pikiran nya sendiri?"
Dalam filsafat Stoikisme terutama yang diajarin sama mbah Epictetus ada konsep terkenal yang disebut Dichotomy of Control, jadi intinya:
- Ada hal yang bisa lu control
- Ada hal yang tidak bisa lu control
Contohnya hal yang bisa lu kendalikan
- Pikiran
- Persepsi
- Respon terhadap suatu kejadian
Kedengaran nya sederhana banget ya ga sih? Bahkan terasa empowering
Tapi masalahnya muncul ketika konsep ini dipahami secara literal atau sederhana
Dalam praktiknya, banyak orang justru merasa gagal ketika mencoba "mengontrol pikiran" nya sendiri. Dan ironi nya, kegagalan ini membuat mereka merasa semakin buruk
Bentar. Tulisan ini bukan sejenis antithesis untuk Stoikisme.
Realita Itu Gak Patuh Pada Lu
Mengacu pada Dichotomy of Control nya Epictetus kalau pikiran kita sepenuhnya bisa dikontrol, seharusnya kita:
- Gak ada overthinking
- Gak ada kecemasan berlebihan atau anxiety
- Tidak ada rasa takut yang muncul tiba-tiba
Tapi kenyataan nya berbeda.
- Kita bisa tahu kalau sesuatu itu gak penting, tapi tetap kepikiran
- Kita bisa sadar kalau kita gak perlu cemas, tapi tiba-tiba tubuh kita tegang
- Kita bisa saja bilang "yaelah ngapain pikirin dia, dia aja gak mikirin aku" tapi tiap malam kita nangis karena dia
Apakah ini karena kita lemah? Enggak juga, justru ini bukti bahwa kita adalah manusia
Aku sebenarnya bukan seorang psikolog, bahkan tidak punya ilmunya, tapi mari aku bedah "menurut kaca mata awam" saya
Dari sudut pandang ku manusia sebenarnya tidak sepenuhnya mengendalikan pikiran nya sendiri. Otak kita bekerja dalam 2 lapisan
- Sistem sadar, yaitu yang bisa kita control
- Sistem bawah sadar, yaitu yang berjalan otomatis
Nah, menurut ku sebagian pikiran kita justru muncul dari sistem yang kedua
Contohnya:
- Tiba-tiba lu mikir negative
- Tiba-tiba lu ngerasa cemas
- Tiba-tiba lu keingat sesuatu tanpa diundang
Demi kakek zeus aku bisa jamin kalau kamu tidak memilih pikiran itu muncul, pikiran itu entah bagaimana muncul sendiri
Jadi kalau kita bedah, kita sebenarnya tidak benar-benar mengontrol apa yang kita pikirkan
Terus Apakah Epictetus Salah?
Oh enggak, tunggu dulu, jangan terlalu simplifikasi. Yang salah bukan mbah Epictetus nya melainkan cara kita memahami Dikotomi Kontrol itu.
Filsafat Stoikisme tidak pernah bener-bener mengajarkan kalau kita harus mengontrol setiap pikiran yang muncul, yang Epictetus ajarkan adalah sesuatu yang lebih halus tapi tajam:
Lu mungkin ga bisa mengontrol pikiran yang datang, tapi lu bisa mengontrol gimana lu merespon nya
Ini sederhana tapi krusial impact nya
Kalau kita melihat Stoikisme dengan perspektif yang lebih realistis, itu bukan tentang "jangan punya pikiran negatif" melainkan tentang "jangan langsung percaya dan bereaksi terhadap pikiran negatif".
Contoh sederhana nya gini:
Ketika kamu mikir "Ah keknya gue gagal"
Respon sebelumnya: lu panik, overthinking, atau menyalahkan diri sendiri
Respon baru: "Yaelah ini cuma pikiran doang, bukan fakta"
Pikiran nya tetap muncul, tapi kamu tidak lagi dikendalikan olehnya.
Berdamai dengan Pikiran
Bisa jadi kita tidak pernah bener-bener menguasai pikiran kita sepenuhnya, dan mungkin.. itu gak perlu.
Menurut ku ada yang lebih penting lagi:
- Kita menyadari pikiran kita, tapi gak langsung bereaksi
- Memberi jarak antara pikiran kita dan Tindakan
- Tetap belajar tenang walaupun pikiran acak-kabul
Karena pada akhirnya hidup bukan tentang pikiran yang selalu tenang, tapi tentang kemampuan untuk tetap berjalan meski pikiran tidak selalu berada dipihak kita
Epilog
Menurut ku Stoikisme bukan tentang menjadi manusia tanpa emosi. Bukan juga tentang makhluk yang selalu rasional.
Stoikisme adalah tentang Latihan
Latihan untuk:
- Tidak langsung percaya pada setiap pikiran
- Tidak langsung bereaksi pada setiap emosi
- Belajar memahamni diri sendiri
Mungkin kita gak bakalan pernah benar-benar mengontrol pikiran, tapi kita selalu punya pilihan
Mau dikendalikan olehnya, atau belajar berjalan bersama nya.
