Yo Johnny di sini, Ada semacam kebanggaan aneh yang sering muncul di dalam percakapan sehari-hari di kalangan netizen "saya tidak tertarik dengan politik". Kalimatnya sederhana dan seringkali diucapkan dengan nada ringan, seolah-olah menunjukkan bahwa diri mereka berada di atas awan konflik dan perdebatan, seolah-olah menjauh dari bagian politik adalah bentuk kedewasaan.
Nah, menariknya sikap itu lebih mirip dengan ilusi kenyamanan.
Banyak orang masih membayangkan kalau politik adalah sesuatu yang jauh, yang berada di gedung-gedung pemerintah, dan diisi oleh orang-orang berjas yang berbicara dalam bahasa yang sulit dipahami. Menurut orang-orang, politik dianggap sebagai tontonan belaka, bukan sesuatu yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Padahal, justru politik yang bekerja paling efektif ketika ia tidak disadari.
Politik hadir diam-diam, mengatur segala hal yang bahkan tidak dapat kita pikir perlu diatur.
Mari kita ambil contoh yang paling sederhana dan paling personal: tubuh manusia. Keputusan tentang siapa yang boleh menikah, kapan seseorang dianggap cukup umur untuk berhubungan sex, hingga akses terhadap kontrasepsi dan batasan terhadap pendidikan seksual, semuanya bukan lahir begitu saja, semua adalah hasil dari kebijakan, keputusan politik, hingga hukum yang dibuat oleh sekelompok orang-orang yang menyebut diri mereka "politisi perwakilan rakyat".
Oke, dengan kata lain bahkan dalam ruang paling private sekalipun manusia tidak sepenuhnya bebas. Yap, untuk berkembang biak pun diatur oleh politik.
Nah, seringkali peraturan ini dibungkus dengan kalimat-kalimat relijius dan bahasa penuh moral, sesuatu dianggap pantas atau tidak pantas, sesuatu yang dianggap menyimpang atau tidak, layak atau tidak. bahasa moral seringkali memberikan kesan bahwa aturan-aturan tersebut memang bersifat alami, seolah dating dari nilai universal yang tidak bisa digugat sama sekali. Padahal, dalam kasus tertentu, moralitas yang dilembagakan hanyalah bentuk refleksi dari kekuasaan yang sedang dominan.
Pada kondisi ini, batas antara moral dan peraturan atau regulasi menjadi abstrak. Apa yang kita lihat sebagai nilai aslinya adalah hasil keputusan.
Ironinya justru di tengah realitas begini banyak orang yang memilih untuk tidak perduli--mereka bungkam. Mereka menghindari segala bentuk pembicaraan politik karena dianggap terlalu melelahkan, penuh konflik, dan tidak produktif. Pilihan seperti ini awalnya tampak netral, tapi sebenarnya tidak pernah benar-benar netral, justru sebaliknya, ini adalah gambaran dari kemunafikan dan apatis.
Begini, ketika seseorang lebih memilih tidak terlibat dalam politik, dia tidak sedang keluar dari sistem, dia tetap berada di dalamnya, hanya saja tanpa suara. Keputusan tetap dibuat, hukum atau aturan tetap jalan, dan dampaknya tetap dirasakan oleh semua pihak, termasuk dalam hal yang paling intim sekalipun. Mereka yang enggan membicarakan atau tidak perduli perihal politik barangkali lebih mudah disebut "sampah demokrasi" mereka seperti bagian dari sekumpulan pendayung dalam Perahu Naga, semua orang sibuk mendayung, sedangkan ia enggan mendayung tapi bermimpi untuk menang.
Ada paradoksnya, ketika seseorang bisa dengan bebas memilih pasangan, mengekspresikan diri, atau menjalani kehidupan pribadinya, tanpa disadari bahwa batas dari kebebasan itu sudah ditentukan sebelumnya, kebebasan yang kita rasakan seringkali adalah kebebasan dalam kerangka yang memang sudah ditetapkan. Ambil contoh: kebebasan dalam berpendapat. Menurut mu bagaimana masyarakat China dengan masyarakat Amerika mengutarakan pendapat nya di hadapan public, terutama yang berkaitan dengan sistem pemerintahan? Mungkin warga Amerika akan mengutarakan opini atau pendapat mereka dengan bebas, tapi warga China? Mungkin mereka akan hilang. Itu adalah kesenjangan dalam keputusan politik.
Masalah sebenarnya bukan pada keberadaan batas itu sendiri, setiap masyarakat membutuhkan aturan, yang menjadi persoalan sebenarnya adalah ketidaksadaran terhadap siapa yang menetapkan batas tersebut dan atas dasar apa dibuat. Menghindari politik tidak membuat seseorang bebas dari pengaruhnya, justru sebaliknya, ketidakterlibatan seseorang dalam politik acapkali membuat seseorang lebih mudah menerima aturan tanpa mempertanyakan urgensi nya.
Tidak semua orang perlu menjadi aktivis atau turun ke jalanan, atau mungkin terlibat dalam perdebatan sengit di acara TV setiap hari. Tetapi menganggap politik sebagai instrument yang tidak relevan dengan kehidupan pribadi adalah bentuk kecacatan berpikir.
Menurut Amna & Ekman dalam jurnal nya yang berjudul "Standby citizens: Diverse faces of political passivity. European Political Science Review" (2014) Menjelaskan bahwa ada sebagian anak muda yang bersikap sebagai Standby Citizenship, dimana sebagian anak muda sadar secara politik tapi tidak ingin terlibat di dalamnya, namun mereka akan bereaksi ketika ada kepentingan yang terdampak. Kondisi tersebut seperti metafora hidran kebakaran, ia tidak selalu aktif namun siap terlibat saat keadaan genting.
Sedangkan menurut Kinder dan Kiewer (1979;1981 sebagaimana dikutip dalam Lockerbie, 2006, hal.192-194) menemukan bahwa masyarakat cenderung mengevaluasi kebijakan berdasarkan dampaknya terhadap kondisi finansial atau kepentingan pribadi--sebuah perilaku yang dikenal sebagai egocentric political behavior.
Ada yang menarik, meskipun anak muda bisa menjadi "hidran" yang siap sedia (Amma & Ekman) pemicu mereka untuk bertindak sering kali bersifat egosentris, yakni ketika kebijakan mulai mengganggu kondisi finansial pribadi mereka (Kinder & Kiewiet).
Pada akhirnya, politik tidak pernah benar-benar berada di luar diri kita, ia ada dalam pilihan yang kita kira sepenuhnya milik kita.
Referensi:
Amnå, E., & Ekman, J. (2014). Standby citizens: Diverse faces of political passivity. European Political Science Review, 6(2), 261–281.
https://doi.org/10.1017/S1755773913000209
Lockerbie, B. (2006). Economies and politics: Egocentric or sociotropic? American Review of Politics, 27, 191–208.
https://doi.org/10.15763/issn.2374-7781.2006.27.0.191-208
